Kontrol Kualitas Formulasi Sediaan Suppositoria

Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan semipadat yang pemakaiannya dengan cara dimasukkan melalui lubang atau celah pada tubuh, dimana ia akan melebur, melunak atau melarut dan memberikan efek lokal atau sistemik.

Kontrol kualitas formulasi sediaan suppositoria untuk menjamin tiap lot suppositoria yang dibuat, secara tetap memenuhi standar yang ditetapkan selama pembuatan lot eksperimen awal. Suppositoria akhir secara rutin diperiksa penampilannya, setelah dipotong memanjang, untuk keseragaman campuran tersebut. Suppositoria tersebut diuji bahan-bahan aktifnya untuk menjamin bahwa masing-masing suppositoria isinya sesuai dengan apa yang disebutkan pada etiket.Kontrol kualitas sediaan suppositoria anatara lain uji kisaran leleh, uji pencairan atau waktu melunak, uji kehancuran, uji ukuran partikel atau penghabluran, uji distribusi bahan obat dan uji disolusi. Berikut kontrol kualitas sediaan suppositoria yaitu:

Uji Kisaran Leleh
Uji ini disebut juga kisaran meleleh makro, dan uji ini merupakan suatu ukuran waktu yang diperlukan suppositoria untuk meleleh sempurna bila dicelupkan dalam penanggas air dengan temperatur tetap (37oC). Sedangkan uji kisaran meleleh mikro adalah kisaran leleh yang diukur dalam pipa kapiler hanya untuk basis lemak. Alat yang biasa digunakan untuk mengukur kisaran leleh sempurna dari suppositoria adalah suatu Alat Disintegrasi Tablet USP. Suppositoria dicelupkan seluruanya dalam penanggas air yang konstan, dan waktu yang diperlukan suppositoria untuk meleleh sempurna atau menyabar dalam air disekitarnya diukur.
Pola pelepasan obat secara in vitro diukur dengan menggunakan alat kisaran leleh yang sama. Jika volume air yang mengelilingi suppositoria diketahui, maka dengan mengukur alikuot aiar untuk masa obat yang dikandung pada bagian interval dalam periode meleleh, ustu kurva waktu terhadap kadungan obat (pola pelepasan obat in vitro) dapat digambar.

Uji Pencairan atau Waktu Melunak
Suatu modifikasi dari metode yang dikembangkan oleh Krowezynski adalah uji suppositoria yang akhir lain yang berguna. Uji tersebut terdiri dari pipa-U yang sebagian dicelupkan ke dalam debagian penanggas air yang bertemperatur konstan. Penyampitan pada satu sisi menahan suppositoria tersebut pada tempatnya dalam pipa. Sebuah batangan dari kaca ditempatkan di bagian atas suppositoria, dan waktu yang diperlukan batangan untuk melewati suppositoria sampai penyempitan tersebut dicatat sebagai ”waktu melunak”. Ini dapat dilaksanakan dalan berbagai temperatur dari 35,5 sampai 37oC sebagai suatu pemeriksaan pengawasan mutu, dan dapat juga dikaji sebagai suatu ukuran kestabilan fisika terhadap waktu. Suatu penanggas air dangan elemen pendingin dan pemanas harus digunakan untuk menjamin pengaturan panas dangan parbedaan tidak lebih dari 0.1oC.
Uji melunak untuk mengukur waktu yang diperlukan suppositoria rektal untuk mencair dalam alat yang disesuaikan dengan kondisi in vivo. Suatu penyari melalui selaput semiparmiabel, yakni pipa selofan, diikat pada kedua ujung kondensor dengan masing-masing ujung pipa terbuka. Air pada 37oC disirkulasi melalui kondensor tersebut pada laju sedemikian rupa, sehingga separuh bagian bawah pipa selofan kempis dan separuh bagian atas terbuka. Tekanan hidrostatis air dalam alat tersebut kira-kira nol ketika pipa tersebut mulai kempis. Bila temperatur air dibuat stabil pada 37oC, suppositoria turun., dan waktu tersebut diukur untuk suppositoria meleleh dengan sempurna dalam pipa tersebut.

Uji Kehancuran
Uji kehancuran dirancang sebagai metode untuk mengukur keregasan atau kerapuhan suppositoria. Alat yang digunakan untuk uji tersebut terdiri dari suatu ruang berdinding rangkap dimana sppositoria yang diujikan ditempatkan. Air 37oC dipompa melewati dinding rangkap ruang tersebut, dan suppositoria diisikan ke dalam dinding dalam yang kering, menopang lempeng di mana suatu batang diletakkan. Ujung lain dari batang tersebut terdiri dari lempeng lain di mana beban digunakan. Uji dihubungkan dangan penempatan 600 g di atas lempeng datar. Pada unterval waktu satu menit, 200 g bobot ditambahkan, dan dimana suppositoria rusak adalah titik hancurnya, atau gaya yang menentukan karakteristik kekerasan dan kerapuhan suppositoria tersebut. Suppositoria dangan bentuk-bentuk yang berbeda mempunyai titik hancur yang berbesa pula. Titik hancur yang dikehendaki dari masing-masing bentuk suppositoria yang beranekaragam ini ditetapkan sebagai level yang menahan kekuatan (gaya) hancur yang disebabkan oleh berbagai tipe penanganan, yakni produksi, pemgemasan, pengiriman dan pengangkutan dalam penggunaan untuk pasien.

Uji Ukuran Pertikel atau Penghabluran
Penghabluran dikhawatirkan terjadi, jika bahan obat melarut dalam masa basis suppositoria yang dipanaskan dan pada saat pendinginannya atau juga pada saat penyimpanannya mengalami pengaruh kelarutan. Dibuat penampang melintang tipis dari suppositoria dan ukuran partikelnya diukur dibawah mikroskop dengan bantuan mikrometer okuler yang telah ditera. Pada penyimpanan suppositoria, pengujian diulangi dalam intrval waktu yang teratur.

Uji Distribusi Bahan Obat
Untuk menguji kandungan bahan obat dari suppositoria dalam suatu bact (keseragaman kandungan), diambil sejumlah suppositoria yang mewakili bach tersebut lalu ditimbang. Kadungan bahan obatnya ditentukan dengan metode yang cocok dan prosentual penyimpangan dari kandunga seharusnya, dutentukan.
Dengan cara yang sama dapat diuji distribusi bahan aktif dalam suppositoria menurut segmentasinya (melintang terhadap sumbu panjang). Hasil yang diperoleh menginformasikan tentang sedimentasi dari bahan padat selama penuangan danpembekuan leburan.

Uji Disolusi
Pengujian laju penglepasan zat obat dari suppositoria secara in vitro selalu mengalami kesulitan karena adnya pelelehan, perubahan bentuk dan dispersi dari medium disolusi. Pengujian awal dilakukan dengan penetapan biasa dalam gelas piala yang mengandung suatu medium.
Dalam usaha untuk mengawasi pada antarmuka massa/medium, berbagai cara telah dipakai, termasuk keranjang kawat mesh atau suatu membran untuk memisahkan ruang sampel dari bak reservoar. Sampel yang ditutup dalam pipa dialisis atau membran alami juga dapat dikaji. Alat sel air (flow cell) digunakan untuk menahan sempel ditempatnya dengan kapas, saringan kawat, dan yang paling baru dengan manik-manik gelas.

Perlukah Vitamin C Setiap Hari?

Banyak sekali iklan di televisi yang menawarkan produk vitamin C dengan dosis 500-1000 mg, baik pada produk makanan, minuman maupun suplemen. Sebenarnya berapakah dosis vitamin C untuk tubuh kita setiap harinya? Benarkah 500 mg? 1000 mg?

Vitamin C adalah mikronutrien yang dibutuhkan tubuh kita dalam jumlah kecil setiap harinya. Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan, katalisator, meningkatkan penyerapan zat besi, memperlancar BAB, penangkal nitrat yang dapat menyebabkan kanker, ddl. Vitamin C banyak terdapat pada jeruk, tomat, jambu biji, susu, mentega, kentang, ikan, dll.

Dosis normal vitamin C:
  • Laki-laki usia 18 tahun ke atas: 90 mg/hari
  • Wanita usia 18 tahun ke atas: 75 mg/hari
  • Ibu hamil: 85 mg/hari
  • Ibu menyusui: 120 mg/hari
Jadi kebutuhan asupan vitamin C untuk tubuh kita berkisar 60-100 mg/hari dan kebutuhan yang paling besar hanya pada ibu menyisui. Tubuh kita menyimpan vitamin C 100 mg/kgBB atau 6000mg, bila terjadi kelebihan akan dikeluarkan oleh ginjal melalui urin.

Fenomena yang terjadi sekarang ini sungguh sangat meresahkan, banyak orang yang mengkonsumsi vitamin C dengan dosis berlebih karena mereka menelan iklan yang ada di televisi mentah-mentah. Selanjutnya apa yang terjadi bila konsumsi viamin C yang berlebih? Kita menjadi orang yang bodoh kerena akan menghambur-hamburkan uang untuk membeli vitamin C yang pada akhirnya akan terbuang pecuma lewat urin.

Konsumsi Vitamin C dalam dosis besar membuat ginjal bekerja ekstra untuk mengeluarkan vitamin C tersebaut, akibatnya ginjal rusak. Hal ini diperparah dengan pola konsumsi yang berlangsung dalam kurun waktu yang lama akan terjadi endapan sitrat pasa system organourinari tract (mulai dari ginjal hingga lubang pelepasan) hingga menimbulkan batu ginjal.

Pada pemakaian vitamin C dosis 500 mg/hari selama 6 minggu dapat merangsang timbulnya perubahan galur-galur DNA, akibatnya sel berprilaku menyimpang dan salah satunya berubah manjadi metaplastik yang dapat menimbulkan kanker. Dosis yang berlebihan tidak akan diserap oleh tubuh dan langsung ke usus halus, di dalam usus halus terjadi penyerapan air oleh vitamin C, akibatnya kotoran akan jenuh dengan air (diare).

Vitamin C yang salah satunya sebagai antioksidan sering disalah artikan. Banyak yang beranggapan semakin tingggi vitamin C yang dikonsumsi akan dapat menyembuhkan kanker, padahal dosis 1-5 g/hari dapat meningkatkan pertumbuahan kanker, itu merupakan dosis yang mematiakan dan kenyataannya pertumbuhan kanker baru bisa dihambat pada dosis 100 mg.

Kapan mengkonsumsi vitamin C dengan dosis tinggi yang tepat?
Konsumsi vitamin C dosis tinggi saat kadar vitamin C dalam tubuh kita kurang dari 60 mg, hal ini biasanya ditandai dengan sariawan, atau saat kita sedang stress dimana kebutuhan akan vitamin C meningkat menjadi 2 kalinya dan kelelahan. Konsumsi ini baiknya hanya 3-5 hari saja.

Lulur Scrup Bengkoang



Seluruh permukaan tubuh manusia di tutup dan di lindungi oleh kulit. Fungsi utama kulit adalah melindungi tubuh dan menjaga suhu tubuh. Kulit sangat gampang terkena infeksi sehingga kulit perlu perawatan ekstra.
Sediaan kosmetik untuk perawatan kulit sangat beragam antara lain lulur, susu pembersih dan lotion. Susu pembersih dan lulur di gunakan untuk mengangkat kotoran yang ada di kulit. Keduanya mempunyai fungsi sama tetapi beda konsistensinya yaitu jika susu pembersih mudah di tuang, sementara lulur mempunyai krim yang tidak dapat dituang.

Alat dan Bahan Pembuatan Lulur Scrup Bengkuang:
Alat:

1. Beker glass
2. Erlenmeyer 500ml
3. Termometer
4. Pengaduk kaca
5. Kompor
6. Timbangan
7. Gelas ukur
8. Pengemas primer + etiket
Bahan Oil base:
1. Stearic acid 301 12g
2. Emulgide 2g
3. Parafin solid 3g
4. Parafin liq 16g
5. Olive oil 4g
6. Cethil alkohol 4g
7. Lanolin 0,8g
Bahan Water base:
1. TiO2 1g
2. TEA 1g
3. PropilenGlikol 2g
4. Aquades 150 ml
5. Nipagin 0,4g
6. Nipasol 0,2g
Bahan tambahan:
1. Scrub 5g
3. Parfume qs (secukupnya)
4. Bengkoang 1g

Cara Pembuatan:
  1. Ditimbang bagian oil base sesuai dengan komposisi, dicampurkan dalam wadah tahan panas dan panaskan sampai semua mencair (pada suhu 70-80 C).
  2. Ditimbang water base sesuai dengan komposisi, dimasukam aqua DM pada wadah lain tanpa panas, kemudian dipanaskan pada suhu 70-80 C.
  3. Tambahkan TEA, propilen glikol, diaduk rata.
  4. Ditambahkan titanium dioksida, nipagin, dan nipasol, diaduk sampai rata
  5. Ditambahkan susu, diaduk sampai rata.
  6. Dicampurkan bagian oil base ke dalam water base pada suhu 60C, diaduk sampai kental.
  7. Didinginkan sampai suhu 40C.
  8. Ditambahkan scrub dan perfume.
  9. Diaduk campuran hingga homogen.
  10. Dimasukkan wadah dan diberi etiket yang sesuai.






Berkata yang Baik atau Diam


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
[رواه البخاري ومسلم]
"Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya". (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Pelajaran yang baisa diambil :
  1. Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.
  2. Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dikalangan individu masyarakat muslim.
  3. Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya .
  4. Berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.
  5. Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.
  6. Tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.
  7. Termasuk kesempurnaan iman adalah menghormati tetangganya dan memperhatikanya serta tidak menyakitinya.
  8. Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.
  9. Memuliakan tamu termasuk diantara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmennya terhadap syariat Islam.
  10. Anjuran untuk mempergauli orang lain dengan baik.

Twenty Drugs Considered Generally Inappropriate For Use in the Elderly

20(dua puluh) Macam Obat yang Secara Umum Dipertimbangkan Tidak Sesuai Untuk Pasien Lanjut Usia

Kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah tidak dapat diberikan pada semua pasien mengingat waktu pelayanan yang cukup lama dan berkesinambungan. Oleh karena itu diperlukan seleksi pasien dengan menentukan prioritas pasien yang dianggap perlu mendapatkan pelayanan kefarmasian di rumah. Pasien yang perlu mendapat pelayanan kefarmasian di rumah salah satunya adalah pasien lanjut usia. Pasen lanjut usia atau geriatri yaitu yang berumur lebih dari 65 tahun. Berikut adalah 20 (dua puluh) macam obat yang secara umum dipertimbangkan tidak sesuai untuk pasien lanjut usia (Twenty Drugs Considered Generally Inappropriate For Use in the Elderly) :
  1. Diazepam
  2. Flurazepam
  3. Pentobarbital
  4. Amitriptyline
  5. soxsuprine
  6. Cyclobenzaprine
  7. Orphenadrine
  8. Chlordiazepoxide
  9. Meprobamate
  10. Secobarbital
  11. Indomethacin
  12. Cyclandelate
  13. Methocarbamol
  14. Trimethobenzamide
  15. Phenylbutazone
  16. Chlorpropamide
  17. Propoxyphene
  18. Pentazocine
  19. Dipyridamole
  20. Carisoprodol
Depkes RI, PEDOMAN PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH (HOME PHARMACY CARE)